Senin, 07 Mei 2012

Kerajaan Kediri

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
I.                   PENDAHULUAN  ..................................................................  
1.      Latar Belakang  ..................................................................   
2.      Permasalahan    ..................................................................   
II.                PEMBAHASAN    ..................................................................   
1.      Berdirinya Kerajaan Kediri  ...............................................   
2.      Sumber-sumber sejarah.......................................................               
3.      Raja-raja Kediri...................................................................   
4.      Keadaan Masyarakat ...........................................................
5.      Faktor penyebab runtuhnya Kerajaan Kediri.......................
III.             PENUTUP
1.      Kesimpulan
2.      Saran
DAFTAR PUSTAKA
I
PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang
Setelah membahas beberapa kerajaan besar di Nusantara pada makalah-makalah sebelumnya, disini juga akan membahas tentang Kerajaan Kadiri (Kediri). Kerajaan Kediri memiliki Peradaban kebudayaan yang tinggi bahkan pada masa Kerajaan Kediri sudah menghasilkan beberapa karya sastra. Seperti cerita khakawin Barata-Yudha yang di terjemahkan dari kitab Bharata-Yudha ke bahasa jawa kuno, dan dengan cerita yang agak berbeda dari cerita-cerita sebelumnya yaitu menceritakan tentang perang saudara antara Panjalu dan Janggala.
Dalam bidang spiritual di kerajaan Kediri juga sangat maju (Pigeaud, 1924:67). Tempat ibadah dibangun di mana-mana. Para guru kebatinan mendapat tempat yang terhormat. Bahkan Sang Prabu sendiri kerap melakukan tirakat, tapa brata dan semedi. Beliau suka bermeditasi di tengah hutan yang sepi. Laku prihatin dengan cegah dhahar lawan guling, mengurangi makan tidur. Hal ini menjadi aktifitas ritual sehari-hari.
Keterangan Kerajaan Kediri diperoleh dari berbagai sumber seperti prasati-prasati yang telah ditemukan.selain prasasti ada juga arca-arca yang telah diketemukan. Walaupun ada beberapa pernyataan tentang kediri belum berdasarkan bukti namun sumber-sumber yang ada sudah cukup membuktikan adanya kerajaan kediri yang awalnya memiliki sejarah yang cukup rumit.
2.     Permasalahan
1.      Kapan berdirinya Kerajaan Kediri?
2.      Sumber-sumber sejarah?
3.      Siapa saja yang pernah menjadi raja-raja di Kerajaan Kediri?
4.      Bagaimana Keadaan Masyarakatnya?
5.      Faktor-faktor runtuhnya kerajaan Kediri?

II
PEMBAHASAN

1.     Berdirinya Kerajaan Kediri
Sejarah Awal
Pendiri Kerajaan Kahuripan adalah Airlangga atau sering pula disingkat Erlangga, yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Nama Airlangga berarti air yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu, Bali dari Wangsa Warmadewa. Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).
Menurut Prasasti Pucangan, pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari dari Lwaram, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam serangan itu, Dharmawangsa tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.
Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibukota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibukota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Nama kota ini tercatat dalam Prasasti Cane (1021).
Menurut Prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).
Menurut Prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang). Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha.
Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa.
Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa, Raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa. Penguasa pertama yang dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa Raja Wuratan, Wijayawarma Raja Wengker, kemudian Panuda Raja Lewa.
Pada tahun 1031 putera Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.
Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke Desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita itu akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana. Terakhir, pada tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.
Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.
  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun Bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
  • Memindahkan ibukota dari Kahuripan ke Daha.
Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.
Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. Menurut cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai Prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi.
Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan.
Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai Raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.
Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan Prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.
Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam Prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut. Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian.
Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan Prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan. Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.
Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).
Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala. Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Kemenangan Jayabhaya atas Janggala ini disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.
 Kerajaan Kadiri atau Kerajaan Panjalu adalah Kerajaan yang terletak di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Pada tahun 1042, Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada. Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan sebutan Jenggala dan Panjalu, yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas. Tujuan pembagian kerajaan menjadi dua agar tidak terjadi pertikaian diantara kedua putranya. Pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289M), kitab Negarakertagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M).
Begitu Raja Airlangga wafat, terjadilah peperangan antara kedua bersaudara tersebut. Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M) dalam prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha

2.     Sumber-Sumber  Sejarah
Sumber sejarah Kerajaan Kediri berasal dari beberapa prasasti dan berita asing sebagai berikut.

Prasasti
·         Prasasti Sirah Keting (1104 M), yang memuat tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Raja Jayawarsa.
·         Prasasti yang ditemukan di Tulungagung dan Kertosono berisi masalah keagamaan, diperkirakan berasal dari Raja Bameswara (1117-1130 M).
·         Prasasti Ngantang (1135 M), yang menyebutkan tentang Raja Jayabaya yang memberikan hadiah kepada rakyat Desa Ngantang sebidang tanah yang bebas dari pajak.
·         Prasasti Jaring (1181 M) dari Raja Gandra yang memuat tentang sejumlah nama-nama hewan seperti Kebo Waruga dan Tikus finada.
·         Prasasti Kamulan (1194 M), yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri telah berhasil mengalahkan musuh yang telah memusuhi istana di Katang-katang.

Berita Asing
Berita asing tentang Kerajaan Kediri sebagian besar diperoleh dari berita Cina. Berita Cina ini merupakan kumpulan cerita dari para pedagang Cina yang melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Kediri. Seperti Kronik Cina bernama Chu fan Chi karangan Chu ju kua (1220 M). Buku ini banyak mengambil cerita dari buku Ling wai tai ta (1778 M) karangan Chu ik fei. Kedua buku ini menerangkan keadaan Kerajaan Kediri pada abad ke-12 dan ke-13M.
Masa kejayaan Kediri dapat dikatakan jelas, terbukti dengan ditemukannya silsilah raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Kediri. Disamping itu, ditemukannya prasasti-prasasti dari raja-raja yang pernah memeritah. Raja-raja itu diantaranya sebagai berikut.

·         Raja Sri Jayawarsa
Hanya dapat diketahui dari prasasti Sirah Keting (1104 M). Pada masa pemerintahannya Raja Jayawarsa memberikan hadiah kepada rakyatdesa sebagai tanda penghargaan, karena rakyat telah berjasa kepada Raja. Dari prasasti itu diketahui Raja Jayawarsa sangat besar perhatiannya kepada masyarakat (rakyat) dan berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

·         Raja Bameswara (1117M)
Banyak meninggalkan Prasasti seperti yang ditemukan didaerah Tulung Agung dan Kertosono. Prasasti seperti yang ditemukan itu lebih banyak memuat masalah-masalah keagamaan sehigga sangat baik diketahui keadaan pemerintahannya.

·         Raja Jayabaya (1135-1157M)
Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan ketika diperintah oleh Prabu Jayabaya. Sukses gemilang Kerajaan kediri didukung oleh tampilnya cendekiawan terkemuka Empu Sedah, Panuluh, Darmaja, Triguna dan Manoguna. Mereka adalah jalma sulaksana, manusia paripurna yang telah memperoleh derajat oboring jagad raya. Di bawah kepemimpinan Prabu Jayabaya, Kerajaan kediri mencapai puncak peradaban terbukti dengan lahirnya kitab-kitab hukum dan kenegaraan sebagaimana terhimpun dalam kakawin Baratayuda, Gathutkacasraya, dan Hariwangsa yang hingga kini merupakan warisan ruhani bermutu tinggi.

Strategi kepemimpinan Prabu Jayabaya dalam memakmurkan rakyatnya memang sangat mengagumkan (Gonda, 1925 : 111). Kerajaan yang beribukota di Dahono Puro bawah kaki Gunung Kelud ini tanahnya amat subur, sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau. Pertanian dan perkebunan hasilnya berlimpah ruah. Di tengah kota membelah aliran sungai Brantas. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan, sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi. Hasil bumi itu kemudian diangkut ke kota Jenggala, dekat Surabaya, dengan naik perahu menelusuri sungai. Roda perekonomian berjalan lancar sehingga kerajaan Kediri benar-benar dapat disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.
Prabu Jayabaya memerintah antara 1130 – 1157 M. Dukungan spi­ritual dan material dari Prabu Jayabaya dalam hal hukum dan pemerintah­an tidak tanggung-tanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh ke depan menjadikan Prabu Jayabaya layak dikenang sepanjang masa. Kalau rakyat kecil hingga saat ini ingat pada beliau, hal itu menunjukkan bahwa pada masanya berkuasa tindakannya selalu bijaksana dan adil terhadap rakyatnya.
Di samping sebagai raja besar. Raja Jayabaya juga terkenal sebagai ahli nujum atau ahli ramal. Ramalan-ramalannya dikumpulkan dalam sebuah kitab Jongko Joyoboyo.Dalam ramalannya, Raja Jayabaya menyebutkan beberapa hal seperti ratu adil yang akan datang memerintah Indonesia.

·         Raja Sri Saweswara (berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161)) dan Raja Sri Aryeswara (berdasarkan prasasti Angin (1171))
Masa pemerintahan kedua raja ini tidak dapat diketahui, karena tidak ditemukan prasasti-prasasti yang menyinggung masalah pemerintahan dari kedua raja tersebut.

·         Raja Sri Gandra
Masa pemerintahan Raja Gandra (1181 M) dapat diketahui dari Prasasti Jaring, yaitu tentang penggunaan nama hewan dalam kepangkatan seperti nama gajah, kebo dan tikus. Nama-nama tersebut menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang dalam istana.


·         Raja Sri Kameswara (berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradahana)
Pada masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-1185 M), seni sastra mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di antaranya Empu Dharmaja mengarang Smaradhana. Bahkan pada masa pernerintahannya juga dikenal cerita-cerita panji seperti cerita Panji Semirang.

  • Raja Sri  Kertajaya (1190-1222 M) ( berdasarkan prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama, dan Pararaton.)
Merupakan raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja Kertajaya juga dikenal dengan sebutan Dandang Gendis. Selama masa pemerintahannya, kestabilan kerajaan menurun. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya mempunyai maksud mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Keadaan ini ditentang oleh kaum Brahmana. Kedudukan kaum Brahmana di Kerajaan Kediri semakin tidak aman.
Kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel yang saat itu diperintah oleh Ken Arok. Mengetahui hal ini. Raja Kertajaya kemudian mempersiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel. Sementara itu. Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana melakukan serangan ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Ganter (1222 M). Dalam pertempuran itu pasukan dari Kediri berhasil dihancurkan. Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri (namun nasibnya tidak diketahui secara pasti). Kekuasaan Kerajaan Kediri berakhir dan menjadi daerah bawahan Kerajaan Tumapel.

1.     Keadaan Masyarakat
a.       Struktur Pemerintahan
Masa perkembangan kerajaan Kediri hanya kira-kira satu abad. Dalam erubahan yang terjadi, terutama dibidang struktur  pemerintahan. Ini terbukti dari prasasti-prasasti masa Kediri yang masih menyebut jabatan-jabatan yang sudah dikenal pada periode sebelumnya, misalnya rakyan mahamantri i hino sebagai “orang kedua” sesudah raja.
Namun ada pula keterangan baru, yaitu penyebutan Panglima Angkatan Laut (Senopati Sarwaja) dalam prasasti Jaring. Meskipun tidak berarti pada masa sebelumnya tidak ada angkatan laut, penyebut tersebut tentunya mepunyai makna khusus. Barang kali pada masa Kediri ini peran angkatan lautan makin besar tidak saja sebagai penjaga keamanan negara, tetapi juga mengamankan perdagangan inter-insuler maupu internasional.
Satu hal yang perlu dicatat adaalah adanya aspek demokrasi yang memungkinkan rakyat mengajukan permohonan kepada raja. Meskipun hal-hal seperti ini juga sudah dikenal pada masa sebelumnya, sebagian besar prasasti Kediri permohonan rakyat kepada raja agar anugrah yang sudah diterima dari raja sebelumnya  dikukuhkan dalam prasasti batu, dan ditambah lagi dengan anugrah raja yang sedang memerintah. Permohonan kepada raja ini disampaikan kepada salah satu pejabat. Pada umumnya permohonan ii dikabulkan oleh raja mengingat rakyat yang memohon tersebut sudah pernah berjasa kepada raja atau menunjukkan kesetiaan terhadap raja.
Hal ini juga penting adanya samya haji atau bawahan raja penguasa daerah dalam struktur kerajaan kediri. Meskipun sudah dikenal sejak periode sebelum kediri, tampaknya samya haji pada masa kediri cukup besar perannya dalam pemerintahan pusat kerajaan, sepertinya yang disebutkan dalam prasasti Banjaran, samya Haji diBanjaran mendorong raja janggala terusiruntuk merebut kembali tahtanya. Kemudian dengan bantuan samya haji di Banjaran dan rakyatnya raja Janggala terusir untuk merebut kembali tahtanya. Kemudian dengan bantuan Samya Haji di Banjaran dan rakyatnya raja Janggala berhasil kembali memperoleh tahtanya.

b.      Agama
Corak agama masa kediri dapat disimpulkan dari peninggalan-peninggalan arkeologi yang ditemukan di wilayah kediri. Candi Gurah dan candi todo Wongso menunjukkan latar belakang agama Hindu, khususnya Siwa, berdasarkan jenis-jenis arcanya. Petirtaan Kepung kemungkinan besar juga bersifat Hindu karena tidak tampaknya unsur-unsur Budhisme pada bangunan tersebut.
Beberapa prasasti menyebutkan nama abhiseka raja yang berarti penjelmaan Wisnu. Akan tetapi, hal ini tidak langsung membuktikan bahwa wisnuisme berkembang pada saat itu. Karena landasan filosofis yang dikenal di Jawa pada masa itu selalu menganggap raja saa dengan dewa Wisnu dalam hal sebagai pelindung rakyat dan dunia atau kerajaan.
Secara umum bahwa agama Hindu, khususnya pemujaan kepada Siwa, mendominasi perkembangan agama pada masa kediri. Hal ini tercermin dari temuan prasasti, arca-arca, maupun karya-karya sastra Jawa Kuno yang berasal dari  masa ini.

c.       Kesenian
Perubahan bidang kesenian dari zaman kediri dibatasi pada seni arsitektur saja. Dahulu orang selalu memperetanyakan mengapa masa kediri tidak menghasilkan candi-candi seperti periode sebelumnya atau sesudahnya, ternyata temuan kemudian satu demi satu.
Profil candi Gurah yang masih tersisa, mempunyai pelipit sisi genta pada kaki candi perwara dan candi induknya mempunyai makara pada ujung bawah tangga. Ciri-ciri ini menunjukkan gaya seni jawa tengah (abad VII – X M). Akan tetapi, arca-arca yang sangat indah meunjukkan gaya seni Singasari (abad XIII M). Pwrbedaan gaya seni ini belum dapat dijelaskan secara memuaskan. Meskipun ada tanda-tanda bahwa candi Gurah pernah dibangun kembali (diperbesar), tampaknya arca-arca tidak berasal dari tahapan kemudian apalagi arca-arca yang lebih tua tidak pernah ditemukan.
Dari sumuran candi ditemukan bata berinskripsi yang tulisannya dari segi paleografi beasal dari abad XI-XII M. Inskripsi singkat ini dapat dipakai sebagai patokan untu menentukan pertanggalan dan araca gurah. Soejmono menyebut candi Gurah ini sebagai mata Rantai yang berada diantara seni Jwa Tengah dan Jawa timur.
Seperti candi Gurah, Cadi kepung dan tando wongso juga meliliki ciri yang sama, yaitu pelipit sisi genta di candi Kepug dan arca-arca Tondo Woso yang mirip arca Gurah. Diperlukan  ketiga candi ini berasal dari masa kediri abad ke  XI-XII M.

d.      Kesusastraaan
Masa kediri disebut masa keemasan pada zaman Jawa Kuno, karena dari masa ini di hasilkan karya-karya sastra terutama dalam bentuk kakawin, yag sangat penting dan bermutu tinggi
Dari masa kediri kita kenal beberapa orang pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Pu sedah dan Pu Panuluh yang bersama-sama mengubah kitab Bhatarayudha dalam masa pemerintahan raja Jaya Bhaya, Pu Panuluh yang bersama-sma mengubah Kitab Ghatotkacasraya didalam masa pemerintahan Raja Jaya Karta. Pu Dharmaja mengubah kitab Samaradahana dalam masa pemerintahan raja kameswara, Pu Monaguna mengubah kitab Sumanasantaka dan Pu Triguna mengubah kitab Krisnayana, kedua-duanya dalam masa pemerintahan Sri warsa krisnayana. Masih ada lagi sebuah kitab yang berdasarkan pertimbangan kebahasaan, gaya dan penggarapan pokok ceritanya. Sekalipun kurang meyakinkan digolongkan kedalam karya satra dari zaman keidiri yaitu kitab bamontaka.
Dalam kitab sumasantaka dijumpai keterangan penting, menyangkut tradisi yang berkenaan dengan Pitra Yajna (upacara untuk orang tua). Tradisi tersebut pembuatan arca bagi raja widarba dan permaisurinya sesudah meninggal, kedua diarcakan sebagai ardhanariswara, arca ini ditempatkan disebuah candi dihalaman keraton. Tradisi ini belum dikenal pada masa Jawa Tengah (abad VIII-X M).
Sayangnya karya sastra masa kediri ini masih banyak perlu penelitian lagi karena sebagaian belum ditranskipsi dan diterjemahkan.


e.       Ekonomi
Catatan para pedagang cina yang mengumpulkan menjadi kronik-kronik kerajaan, dengan jelas menyebutkan tentang kehidupan rakyat kediri dalam bidang perekonomian seperti pertanian dan perdagangan.
Untuk pertanian rakyat di kerajaan kediri ini banyak yang menghasilkan beras, dan untuk perdagangan antara lain yang laku dipasaran pada masa itu adalah emas, perak, daging, kayu cendana, pinang dan lain-lain.
Pajak yang dihasilkan berupa hasil bumi, telah mengenal sistem pertukaran dengan uang emas atau perak. Letak kediri juga sangat strategis karena diantara Indonesia timur dan Indonesia Barat.

f.       Sosial
Pada masa kejayaan Kediri, perhatian raja terhadap rakyatnya bertambah besar. Hal ini dibuktikan dengan munclnya kitab-kitab atau karangan yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu. Seperti kitab Lubdhaka yang mengandung pelajaran moral bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang tidak ditentukan oleh berdasarkan asal dan kedudukan, melainkan berdasarkan tingkah lakunya. Raja turut serta dalam perlindungan terhadap hak-hak rakyat, sikap memberi perlindungan ini merupakan suatu alat yang efektif untuk melihat perkembangan kehidupan sosial masyarakart kediri.
Tercatat dalam kronik-kronik Cina, bahwa:
·         Rakyat kediri pada umumnya telah memiliki tempat tinggal yang baik
·         Hukuman yang dilaksanakan ada dua macam, yaitu hukuman denda dan hukuman mati (khusus bagi pencuri dan perampok)
·         Kalau sakit rakyat tidak mencari obat tetapi cukup memuja para dewa
·         Pakaian cukup rapi
·         Kalau raja berpergian dikawal oleh pasukan berkuda dan pasukan darat
·         Martabat seserang tidak dilihat pada statusnya tetapi pada kelakuannya.

2.     Faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana, perselisihan ini terjadi karena Raja Kertajaya memerintahakan kaum brahmana untuk menyembah dia sebagai raja, namun para kaum Brahmana menolak yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri. Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.
Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.



III
PENUTUP

1.     Kesimpulan
Air langga adalah putera Raja Bali bernama Udaya yang menikah dengan Mahendradatta saudari raja Dharmawangsa. Air Langga dinikahkan oleh Dharmawangsa. Pada waktu pesta pernikahan, secara tiba-tiba datang serangan dari kerajaan Wura Wuri (kerajaan bawahan Sriwijaya) yang menewaskan Dhramawangsa dan keluarga Ketika terjadi peristiwa tersebut, Air Langga lolos dari pembunuhan. Atas bantuan Narattoma berhasil melarikan diri ke hutan. Selama di pengasingan, Air Langga mendapat gemblengan dari para Brahmana dan dinobatan menjadi raja. Akhir Langga berusaha memulihkan kewibawaan Kerajaan Medang. Secara berturut-turut Air Langga berhasil menaklukan raja-raja bawahan (vassal) Sriwijaya seperti Bisaprabhawa ditaklukan tahun 1029 M, raja Wijayawarman dari Wengker tahun 1034, Raja Adhamapanuda tahun 1031 M termasuk Wura Wuri tahun 1035. Setelah berhasil memulihkan kewibawaan kerajaan, Air Langga memindahkan ibukota kerajaan Medang ke Kahuripan.
Usaha yang dilakukan Air Langga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Medang, antara lain :
1. Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, di muara Kali Brantas.
2. Membangun waduk waringin sapta untuk mencegah banjir musiman
3. Membangun jalan-jalan yang menghubungkan pesisir ke pusat kerajaan
Pelabuhan Hujung Galuh dan Tuban menjadi bender dagang yang ramai. Kapal-kapal dari India, Birma, Kamboja dan Champa berkunjung kedua tempat itu. Usaha-usaha yang dilakukan Air Langga, telah mendorong Kerajaan Medang Kamulan kepuncak kejayaan dan kemakmuran. Atas keberhasilan raja Air Langga tersebut dalam membangun kerajaan maka pengalaman hidupnya dikisahkan dalam sebuah kitab bernama Arjuna wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Selain usaha dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, Air Langga pun sangat memperhatikan para Brahmana yang telah menggembleng ketika di hutan Bentuk perhatian Air Langga terhadap para Brahmana adalah dengan mendirikan bangunan suci di daerah Peucangan. Di penghujung akhir hayatnya, Air Langga memutuskan mundur dari kerajaan dan menjadi memutuskan untuk menjadi pertapa dengan sebutan resi Gentayu. Air Langga meninggal pada tahun 1049 M. Jenazahnya disemayamkan di lereng gunung Pananggungan dalam candi Belahan.
Pewaris tahta kerajaan seharusnya seorang puteri (sri Sanggramawijaya) yang lahir dari permaisuri. Namun karena ia memilih menjadi pertapa, maka tahta beralih pada putera Air Langga yang lahir dari Selir. Untuk menghindari dari perang saudara, Air Langga membagi dua kerajaan. Pembagian dibantu oleh Mpu Bharada, yaitu Jenggala dan Panjalu. Batas kedua kerajaan dibatasi oleh sungai Brantas. Maka dengan demikian berakhirlah kerajaan Medang Kamulan sekaligus Dinasti Isyana

2.     Saran
·                 Sebetulnya terbentuknya kerajaan Kediri ini, dapat kita telusuri dari sejarah kerajaan Medang Kamulan yaitu merupakan Kerajaan lanjutan dari Mataram Lama di Jawa Tengah. Letak Kerajaan berada di wilayah Jawa Timur. Kerajaan Medang menjadi Kerajaan tersendiri sejak Mpu sindok membentuk Dinasti Baru yaitu Isyana.
·                 Menurut Ir. Soekarno beliau berkata “JASMERAH” Jangan Lupakan Sejarah, Maka kita sebagai penerima warisan (sejarah) hendaknya kita lebih giat lagi mencari pengetahuan mengenai sejarah-sejarah masa lampau. Contoh kecil adalah mencari peristiwa apa saja yang terjadi sebelum Proklamasi Indonesia. Dengan demikian kita akan bisa menambah rasa patriotisme (cinta tanah air) yang sebagi pemuda-pemudi bangsa sangat penting memiliki jiwa cinta tanah air, guna membangun Bangsa yang lebih baik lagi.



Daftar Pustaka

·         Ten dam, H.A, “Verkenningen Rondom Pejajaran”, Indonesie. 10 (4), 19 halaman 290-310.
·         Drs. Edang.H.H.dkk, “Pelajaran IPS Sejarah Nasional dan Umum”, 2002, PT. Sarana Panca Karya Nusa, Bandung.
·         Sejarah XI (Program IPS) – semester I (08:39_14 Mei 11)
·         Kerajaan Medang Kamulan - Penelusuran Google.
·         Pembagian wilayah Kerajaan Medang Kamulan - Penelusuran Google. http://www.google.co.id/search?q=Pembagian+wilayah+Kerajaan+Medang+Kamulan&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a (00:15_04 Jun. 11)
·         Kerajaan Panjalu Ciamis - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Panjalu_Ciamis (08:39_ 14 Mei 11)
 


1 komentar:

  1. terima ksaih sangat membantu dalam pelajaran saya ..., saya sekolah di SMA N 14 GARUT

    BalasHapus