Senin, 07 Mei 2012

Sejarah Sosial "Perencanaan Sosial"

BAB 1
PENDAHULUAN
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya.
Dalam prakteknya penerapan metodologi ilmu-ilmu alam ke dalam ilmu-ilmu sosial selalu menimbulkan perdebatan, utamanya dari segi obyek telaahan atau observasinya. Obyek penelaahan ilmu-ilmu sosial relative kompleks. Sebagai obyek observasi,   perilaku masyarakat dan individu manusia tidak dapat begitu saja diprediksi. Seperti diketahui ilmu-ilmu alam telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sedangkan ilmu ilmu-ilmu sosial agak tertinggal. Beberapa ahli berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial tak akan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Sebab  Ilmu-ilmu sosial mempelajari tingkah laku manusia yang sulit dibuat seragam.

Dan dalam ilmu sosial ada yang namanya perencanaan sosial yang sangat penting untuk aspek kehidupan manusia karena dengan kita melakukan perencanaan sosial maka kegiatan kita untuk mempersiapkan kehidupan masa depan akan terperinci dengan baik dan akan memiliki hasil yang baik pula karena terperinci atau tersusun sedemikian rupa didalam pelaksanaan perencanaan sosial.

BAB 2
PEMBAHASAN


PERENCANAAN SOSIAL

            Perencanaan sosial lebih bersifat preventif  (positif) oleh karena kegiatannya merupakan pengarahan–pengarahan dan bimbingan sosial mengenai cara-cara hidup masyarakat yang lebih baik. Akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan biologi yang cepat akan besar pengaruhnya dalam kehidupan, baik positif maupun negatif. Tehnik pembiakan dalam biologi dengan sistem kloning dan rekayasa genetika datangnya begitu cepat, padahal perangkat lunak untuk menyambut perkembangan tersebut belum siap, dan terjadilah cultural shock atau goncangan budaya lebih disebabkan oleh karena ketidaksiapan suatu individu atau masyarakat dalam penerimaan perkembangan, perubahan, atau teknologi baru
Pokok perhatian dalam perencanaan sosial adalah melakukan modifikasi, menghilangkan atau membuat kebijakan-kebijakn atupun program-program sosial dalam suatu organisasi pelayanan.

Perencanaan sosial profesional umumnya mempunyai peran utama:
1.      Mengembangkan perundang-undangan.
2.      Mengevaluasi program-program sosial.
3.      Menciptakan atau mendisain model-model pelayanan.
4.      Mengembengkan komite dewan penasehat atau badan kebijakan yang bertugas memberikan masukan kepada pengembang program-program pada organisasi pelayanan.

Pada tingkat masyarakat (comunity Level) biasanya perencanaan sosial bekerja pada agen-agen yang berada dibawah pemerintahan ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat.
Adapun peran yang biasa dilakukan perencanaan sosial tingkat masyarakat adalah:
1.      Perencanaan yang bersifat sektoral yang penjangkauannya lebih pada sektor pelayanan atau yang populasi spesifik.
2.      Peranannya lebih pada memberikan masukan pada sistem perundang-undangan atau kebijakan dibidang pelayanan kesehatan, kesehatan mental atau pelayanan pada anak-anak muda.
3.      Pelayanan yang bersifat direck service.

Ada beberapa alasan mengapa terjadi penolakan pada perubahan diantaranya:
1.      Merasa terhina jika perubahan itu datang dari pihak luar.
2.      Adanya alsan keuangan, ketidak tersediaan dana untuk melakukan perubahan yang dirasakan tidak efisien sehingga dirasakan terlalu banyak membutuhkan biaya.
3.      Perubahan akan mengganggu proses menejemen, karena perubahan biasanya menuntut adanya penambahan atau perubahan keterampilan atau pengetahuan dan konsekuensinya membutuhkan tenaga baru.
4.      Dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapai kondisi atau situasi seperti saat ini sedangkan perubahan menuntut pengambilan risiko yang cepat.

Pada kenyataan yang terjadi secara umum bahwa sebuah organisasi baru atau pegawai baru lebih banyak dari mereka yang mau mengambil risiko karena mereka umumnya masih mempunyai semangat yang tinggi, dan lama kelamaan suatu organisasi atau pegawai itu makin mapan dan berkembang sehingga terbentuknya suatu prosedur dan peraturan-peraturan yang mulai diformalkan. Kemudian suatu organisasi atau pegawai mulai memikirkan bagaimana  cara untuk bertahan (survive) dan mulai memikirkan bagaimana membuat organisasi mereka itu lebih maju ketimbang memikirkan penemuan-penemuan baru yang memungkinkan akan mengganggu status kemapanan yang telah dicapai karena perubahan juga tidak selalu menjamin adanya suatu inovasi dan suatu inovasi juga tidak menghasilkan pelayanan yang efektif atau lebih baik.

Perubahan biasanya terjadi karena adanya tuntutan perluasan wilayah pelayanan atau ada data baru tentang program tertentu, sehingga suatu organisasi harus merekrut tenaga baru dengan ide-ide baru serta pengetahuan dan keterampilan yang lain. Namun kenyataannya pengrekrutan tenaga baru cukup memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, jika perekrutan dilakukan oleh lembaga khusus yang menangani pengrekrutan terkadang hasilnya kurang memuaskan karena lembaga tersebut kurang mengakomodir keinginan lembaga yang berkepentingan sehingga ingin memanfaatkan lemba seperti ini harus diterangkan dengan tepat tenaga baru yang dibutuhkan secara detail.

Permasalahan yang berkaitan dengan perubahan adalah karena adanya hambatan pada keterbatasan sumber daya, biaya dan pembagian tugas. Bahkan terkadang hambatan ini sudah mendarah daging dalam tubuh suatu organisasi sehingga merekapun tidak mengehtahui jika mereka mempunyai permasalahan. Dalam hal ini perencanaan sosial dapat bertindak sebagai fasilitator atau penghubung atara lembaga dengan sumberdaya terkaitan. Terkait dengan biaya atau sumber dana biasanya suatu lembaga telah memiliki alokasi dana yang tepat, namun dengan adanya perubahan dapat mengganggu stabilitas dana yang ada, mereka sudah mengidentifikasikan dana mereka pada fasilitas, tenaga ahli (terutama dalam hal pelatihan tenaga menjadi tenaga profesional).


Terdapat beberapa strategi dalam meningkatkan penerimaan lembaga atau masyarakat terhadap perubahan diantaranya:
1.      Pendidikan untuk perubahan biasanya berbentuk workshop, seminar, pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan profesionalitas dan pengembangan keterampilan. Strategi ini dapat berhasil apabila peserta pendidikan terlibat langsung dalam penyusunan atau pelaksanaan program atau kebijakan. Selain itu peserta didik mempunyai pengalaman lapangan, serta peserta didik harus mempunyai otoritas untuk melakukan perubahan atau keterampilan baru mereka.
2.      Adaptasi dengan sumberdaya yang terbatas, dimana lembaga pelayanan harus beradaptasi terhadap sumber daya yang terbatas dengan mengembang fungsi atau pelayanan yang sesuai dan dapat memanfaatkan sumberdaya yang terbatas tersebut.
3.      Melakukan insentif dimana setiap perubahan yang dilakukan selalu berimplikasi pada masalah dana sehingga seorang perencanaharus pandai melakukan negosiasi dimana jika perubahan itu dapat dilakukan dengan paksaan akan menghasilkan penolakan, namun perubahan itu dapat dilakukan dengan menonjolkan keuntungan yang didapat dan cara yang tidak merugikan organisasi atau masyarakat.
4.      Semakin banyak perubahan yang terjadi maka semakin banyak pula aktifitas atau tenaga ahli. Peruabahan juga membawa berbagai variasi dan inovasi pelayanan.
5.      Menggunakan jasa konsultan untuk meningkatkan penerimaan inovasi atau perubahan. Konsultan dapat memberikan masukan atau berbagai pengalaman mereka dalam membantu lembaga-lembaga pelayanan sosial lainnya, walaupun terkadang mereka memang tidak mempunyai pengalaman yang sama dengan lembaga yang akan dibantu, namun pengalaman lain pun dapat membantu banyak untuk mengadakan perubahan.
6.      Shake up ini adalah suatu perubahan yang tidak menjamin perubahan yang permanent. Shake up hanya membuat guncangan kecil pada system, kemudian akan mendorong untuk terjadinya perubahan pada struktur dan komponen-komponen untuk mencapai tujuan organisasi.
7.      Menghubungkan dua lembaga yang mempunyai program pelayanan yang sama atau mempunyai ideologi yang berbeda atau metode yang berbeda pula untuk saling berkerja sama. Umumnya lembaga yang satu lebih baik dari pada lembaga yang lain, sehingga ada transfer pengetahuan, keterampilan dan pengalaman.
8.      Perubahan  juga harus memperhatikan pihak-pihak yang mengalaami dampak langsung dari perubahan. Karena umumnya penolakan akan perubahan itu berasal dari pihak yang dirugikan.
9.      Perubahan yang terjadi dapat saja menyebabkan adanya tindakan menutup diri dan penolakan, untuk itu maka perubahan harus berjalan secara perlahan dan berkelanjutan. Terkadang perubahan itu tidak perlu terjadi pada semua budan, jika progra pelayanan masih dapat atau masih layak maka dapat dipertahankan.
10. Program pelayanan dapat saja dipertahakan karena masih layak, dikembangkan jika progran tersebut kurang efektif dan efisiendan dihilankan diganti dengan prokram pelayanan baru.
11. Organisasi harus berusaha untuk mempengaruhi para perencana, demikian sebaliknya perencana pun akan berusaha untuk mempengaruhi lembaga dimana dia bertugas. Lembaga selalu berusaha mencegah intervensi dari perencana. Untuk mengatasi hal ini maka perencanaan tidak boleh berasumsi bahwa ia mengetahui segalanya, dalam melakukan perencanaan harus memperhatikan semua hal yang berkaitan dengan lembaga termasuk didalamnya ideologi, kepentingan dan lain sebagainya. Kerjasama dan kolaborasi sangat dibutuhkan dan menentukan.

Terdapat 5 (lima) komponen penting yang harus ada dalam latihan perencanaan sosial diantaranya:
1.      Pengantar studi pembangunan secara umum dan khususnya formulasi kebijaksanaan dan pembangunan sosial.
2.      Pengantar struktur pemerintah dan administrasi serta peran-peran metode perencanaan pembangunan.
3.      Analisis peran perencana sosial dalam berbagai bentuk.
4.      Batas-batasan mengenai keterampilan dan teknik dasar yang dibutuhkan perencanaan sosial.
5.      Dan Setelah pelatihan para peserta didik harus diberikan kesempatan untuk  menspesialisasikan diri pada aspek-aspek atau bentuk perencanaan sosial tertentu.


Mengatasi permasalahan penolakan pada pembaharuan

            Faktanya organisasi atau masyarakat sulit untuk menghadapi perubahan, karena mereka sudah mempunyai rutinitas yang sudah mereka ngerti atau jalani. Selain itu perubahan biasanya berkolerasi dengan masalah keuangan. Apalagi suatu organisasi yang sudah melakukan penanganan masalah sosial, umumnya mereka sudah mempunyai maknisme yang mapan sehingga ada keengganan untuk melakukan perubahan.

            Perubahan memang tidak dapat dilakukan dengan paksaan, seorang perencana harus berusaha untuk meyakinkan dan dilakukan secara perlahan dengan mengikut sertakan orang-orang yang berkkepentingan dalam proses perubahan yang dilakukan.

            Pada kenyataannya yang paling banyak dilakukan oleh perencanaan sosial ditingkat komunitas atau masyarakat adalah perencanaan yang bersifat sktoral dan menjadi advokasi dalam memberi masukan pada sistem perundang-undangan atau kebijakan.

            Umumnya lembaga-lembaga pelayanan ditingkat komunitas ini mempunyai wilayah karja atau karakteristik kelompok sasaran yang sama, untuk itu perlu dibentuk lembaga koordinasi yang biasanya berada dibawah pemerintah, terutama lembaga-lembaga pemerintahan yang terkait (Dinas, Departemen dan lain-lain).

Dalam melakukan perencanaan  biasanya tidak pernah terleps dari sektor-sektor terkait (intas sektoral, dimana masing­-masing lembaga mempunyai tujuan yang khusus dan populasi yang khusus. Untuk itu diperlukan satu koordinator yang dalam kerjanya menggunakan pendekatan-pendekatan holistik/ komprehensif.

Biasanya kedudukan perencanaan sosial dalam suatu organisasi dapat sebagai ekses pada pembuatan kebijakan ditingkat atas, namun tidak mempunyai akses pada perencanaan yang telah dibuat. Posisi lainnya adalah berada diantara menejerial dan operasional atau berada didua posisi ini sekaligu, mereka biasanya mempunyai otoritas pada pengembangan program dan pelaksanaan program sehingga perencanaan dapat memahami pula implikasi dari masing-masing kebijakan/program yang dibuat.

Seorang perencanaan sosial selalu mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan pekerjaannya, dan setiap perencanaan juga mempunyai atribut yang melekat dalam diri mereka yang sedikit anyak juga turut mempengaruhi perencanaan yang  mereka buat.

Adapun atribut tersebut adalah ideologi (sekumpulan nila-nilai); karakter (dapat mempengaruhi dalam melihat masalah); pengehtahuan, keterampilan dan pengalaman; serta kpribadian dan kredibilitas perencanaan.

Ideologi mempunyai pengaruh dalam melihat masalah, seperti mereka yang mengusung ideologi konsensus selalu menekankan pada kesatuan, memilih masalah yangmang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat, tidak memihak karena mereka umumnya menghindari konflik atau kompetisi, mereka biasanya mereka mengutamakan kompromi, negosiasi. Sedangkan mereka yang mengusung ideologi konflik umumnya mereka fokus pada satu kelompok masyarakat tertentu (spesifik) tidak terlalu mementingkan kepentingan umum atau nilai-nilai yang berlaku umum, umumnya lebih menempatkan diri mereka sebagai partisan lebih memperhatikan atau menekankan pada kekuasaan dan pengaruh politik dan peran yang biasa dilakukan dengan melakuakn aksi sosial maupun konflik.

 Secara umum nilai-nilai yang tidak boleh hilang dalam melakukan perencanaan sosial adalah nilai-nilai sosial seperti HAM, kemanusiaan, keadilan, dll.

Karakter ini dapat dilihat bagaimana cara perencanaan memilih persamasalahan. Biasanya ada perencanaan yang lebih melihat masalah dari ketertarikan atau interest perencanaan atau lebih pada kesesuaian dengan kemampuan  yang mereka miliki. Mereka yang seperti ini dikenal sebagai operasonalist yaitu orang yang hanya tahu apa yang pernah mereka lakukan, menggunakan metode yang pernah mereka gunakan sehingga perencanaan seperti ini tidak berkembang, hanya sebagai pelaku berdasarkan hukum-hukum dan instrumen perncanaan yang sudah ada.

Kegiatan perencanaan baru dilakukan setelah kajian dilakukan dan pemahaman terhadap permasalah dipahami secara menyeluruh. Kendala yang dialami adalah lama waktu yang dibutuhkan dalam pengumpulan data, sehingga energi habis diawal proses pembuatan perencanaan sedangkan biasanya perhatian akan berkurang ketika melakukan perencanaan dan pelaksanaan program.

Pengetahuan dan keterampilan turut mempengaruhi perencanaan dalam melihat permasalahan. Penegetahuan dan keterampilan didapat dari teori dan pengalaman. Yang dimaksud dengan keterampilan diantara negosiasi, diagnosa masalah, menentukan masalah, dll. Perencanaan akan efektif jika antara pengetahuan dan keterampilan dapat menjangkau kegiatan organisasi, kebutuhan, keinginan dan karakter dari populasi.

            Kepribadian dan latar belakang kehidupan perencanaan turut menentukan sukses tidaknya suatu perencanaan. Kredibilitas seorang perencana pun turut mempengaruhi perencanaan yang akan disusun terutama kredibilitas ini dilihat dari sisi pengetahuan, keterampilan serta pengalaman yang mereka alami.

BAB 3
PENUTUP (KESIMPULAN)

Jadi perencaaan sosial adalah merupakan persiapan atau dengan kata lain rancangan kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan masyarakat secara ilmiah agar  memiliki hasil yang terperinci atau terancang sedemikian rupa supaya menghasilkan masa depan yang lebih baik dan bertujuan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya halangan atau hambatan.
Dan secara sosiologis perencanaan ini didasarkan pada perincian pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik dari pada sebelumnya. Kemudian dengan hadirnya teknologi baru, membutuhkan persiapan untuk menggunakannya dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap kemajuan jangan sampai teknologi baru menjadi beban dan tidak bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Sebagai contoh kehadiran komputer dan internet, hendaknya dapat menopang dan meberi kemudahan bagi masyarakat, tidak justru menjadi beban dan menimbulkan masalah.
Seorang perencana juga harus berusaha dengan segala kemampuan dan pengetahuan serta pengalamannya untuk tetap melakukan perubahan dengan melakukan prosedur-prosedur dan teknik-teknik perencanaan dan perubahan yang terjadi nanti harus tetap sesuai dengan tujuan atau visi misi dari lembaga yang bersangkutan atau masyarakat.

           

DAFTAR KEPUSTAKAAN


Sosiologi 1 SMA, Interaksi Sosial dalam dinamika Sosial Budaya.


Dr. Hamalik, Oemar.Study Ilmu Sosial.Cv.Mandar Maju.1992.Bandung.

Bouma. Ilmu Masyarakat Umum. Terjemahan Sujono. Jakarta: P.T. Pembangunan, 1956.

Coser, Lewis dan Bernard Rosenberg (ed). SocologicalnTheory. A Book Of Readings. New York: the Macmillan Company, 1964.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar